BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Sepanjang hidupnya, manusia selalu belajar dan melakukan perubahan-perubahan  sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan (adaptasi). Hal ini adalah sesuatu yang wajar sebab semua masyarakat/kebudayaan mempunyai dinamika (berubah). Masyarakat terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Perubahan-perubahan tersebut terjadi baik secara individu maupun berkelompok. Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk di suatu desa. Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar karena suatu faktor pendorong adanya perubahan tersebut.
Perubahan memang terikat waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, perubahan itu tampaknya terjadi secara terus-menerus walau diselingi dimana keadaan masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan. Dinamika masyarakat tersebut terjadi karena adanya Interaksi sosial. Interaksi sosial terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang-orang perorang, antar kelompok manusia, maupun antar orang perorang dengan kelompok manusia yang menghasilkan hubungan timbal balik.
Salah satu bukti nyata perubahan sosial tampak pada perubahan pola permukiman masyarakat. Contohnya saja yang terjadi di Kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada zaman dahulu pola permukiman warga Pangkalan Bun masih bersifat homogen (hanya tinggal satu lingkungan dengan orang-orang satu suku) permukiman yang bersifat homogen dan tempat tinggal yang disekeliling keluarga serumpun dapat mempermudah interaksi atau komunikasi sehubungan dengan belum adanya komunikasi yang canggih. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang ini warga Pangkalan Bun sudah membaur dan bersifat heterogen yang tidak harus berkumpul dengan kerabat serumpunnya sehubungan dengan alat komunikasi yang sudah canggih.
Makalah ini membahas tentang pola permukiman masyarakat Pangkalan Bun. Perubahan pola permukiman  ditinjau dari sudut pandang perubahan sosial budaya sebagai salah satu bidang kajian sosiologi.
1.2       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pola permukiman masyarakat Pangkalan Bun pada zaman dahulu ?
2.      Bagaimana pola permukiman masyarakat Pangkalan Bun sekarang ?
3.      Apa faktor yang melatarbelakangi pembentukan pola permukiman tersebut ?
4.      Mengapa terjadi perubahan pola permukiman masyarakat di Pangkalan Bun ?




BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1       Definisi Perubahan Sosial
Para sosiolog mencoba mendefinisikan, merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum perubahan sosial. Banyak pengertian yang menjelaskan tentang bagaimana perubahan sosial tersebut terjadi dalam masyarakat. Hal demikian disebabkan karena tiap-tiap masyarakat mempunyai kondisi lingkungan sosial budaya dan alam yang berbeda. Berikut adalah beberapa pengertian dari perubahan sosial menurut para ahli.
a. Gillin and Gillin
Menurut J.L Gillin dan J.P Gillin, perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima, yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat tersebut.
b. Max Weber
Berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur (dalam buku Sociological Writings).
c. W. Kornblum
Berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama
d.   Selo Soemardjan
Selo Soemardjan mengatakan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. Termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut.
e. Kingsley Davis
Davis mengartikan perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
f. Robert Mac Iver
Dalam bukunya “A Textbook of Society” Iver  mengatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam hubungan-hubungan sosial (social relationship) atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
g. William F. Ogburn
William menyatakan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material atau non material.
h. Ritzer, et.al (1987: 560) dalam Piotr Sztompka
Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antarindividu,kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu.

SISTEM KEKERABATAN SUKU BALI

in , by nyakizza.blogspot.com, 22.16

SISTEM KEKERABATAN SUKU BALI

photo by : kanjeng izza


Keunikan Bali bisa dilihat melalui bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan kekerabatan secara lahir dan batin. Orang Bali begitu taat untuk tetap ingat darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan keluarga secara tersendiri. Tatanan masyarakat berdasarkan soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan manusia Bali. Mereka tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang mereka miliki. Mereka dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai prasasti yang didalamnya berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali. Beberapa soroh yang selama ini dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga Wesnawa, Pasek, Dalem Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa, Bali Aga dan lainnya. Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda. Meski begitu, akhirnya mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut Hyang Pasupati. Begitu unik dan menarik memahami kehidupan orang Bali dalam kaitan mempertahankan garis leluhurnya. Sebagian kehidupan ritual mereka juga diabdikan untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka.

Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut. Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa Hindhu di berbagai daerah di Bali dalam jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu masyarakat Bali - Aga dan masyarakat Bali Majapahit. Masyarakat Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa - Hindhu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya diam didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali.
Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia, bahasa Bali tak jauh berbeda dari bahasa Indonesia lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno tersebut disamping banyak mengandung bahsa Sansekrta, pada masa kemudiannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit ialah jaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali ketika Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

ETNOGRAFI DI INDONESIA : BERBAGAI CIRI
(Ditulis oleh Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra)

Ketika berbicara mengenai etnografi di Indonesia, maka kita tidak bisa terlepas dari buku-buku referensi seperti Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Masyarakat Desa di Indonesia Masa Kini, Penduduk Irian Barat, Masyarakat Terasing di Indonesia yang diedit oleh Prof. Koentjaraningrat, Minawang dari H.S. Ahimsa Putra, Dunia Orang Sawu dari N.L. Kana, Tradisi Pesantren dari Z. Dhofier, Manusia dan Hutan dari H. A. Pranowo, Konflik dan Integrasi dari A. F. Nasution, The Javanesse Trah dari S. Sjairin, serta berbagai macam artikel yang ditulis oleh para ahli antropologi dan dimuat dalam berbagai macam jurnal.


Jika kita perhatikan isi dari berbagai macam buku dan artikel etnografi tersebut, maka dari perspektif tertentu kita akan dapat mengelompokkan mereka ke dalam tiga kategori, yakin etnografi yang bersifat asal deskripsi yang kemudian disebut Etnografi Awam, kemudian etnografi yang berisi deskripsi, baik yang mendalam maupun dangkal, tetapi juga bersifat klasifikatif, yang kemudian disebut Etnografi Laci, dan yang terakhir  adalah etnografi yang berisi deskripsi juga, namun sudah lebih analitis yang disebut Etnografi Analitis.




Etnografi Awam
Etnografi Laci
Etnografi Analitis
a.
Bukan ditulis oleh ahli Antropologi (biasanya berasal dari wartawan)
Hanya berisi pelukisan tentang kebudayaan dan sukubangsa
Memusatkan perhatian pada fenomena tertentu (politik, kekerabatan, agama, dsb)
b.
Banyak dimuat dalam majalah-majalah popular atau surat kabar
Umumnya sudah lebih sistematis (uraian sudah mengikuti urutan tertentu yang telah ditentukan, yaitu 7 unsur kebudayaan universal)
Penulis juga mengambil jarak dengan obyek dan subyek penelitian.
c.
Deskripsinya datar. Umumnya tidak terdapat analisa ataupun kesimpulan tertentu dari penulis mengenai apa yang dituliskan
Judul-judul semacam laci tempat penulis memasukkan informasi
Masih belum ditemukan adanya dialog antara peneliti dengan informan, maka yang tampil adalah berbagai abstraksi.
d.
Judul dibuat semenarik mungkin, berlawanan dengan pendapat umum agar orang tertarik membaca artikel tersebut.
Sudah lebih “ilmiah” atau antropologis (kita akan menemukan konsep-konsep analitis yang penting dalam antropologi.
Diawali dari sebuah permasalahan tertentu. Mencari solusinya melalui penelitian (lapangan maupun pustaka).
e.
Focus pembicaraan tidak sangat tajam/ tidak mendalam
Ditujukan pada publik yang lebih terbatas (mereka yang tahu, memahami, dan dapat menjelaskan fenomena sosial budaya sserta ingin memahami kehidupan dan dinamika masyarakat dan kebudayaan.
Berupaya menampilkan keterkaitan antara unsure budaya satu dengan yang lain dan mencari benang merah dalam permasalahannya.
f.
Tidak mencoba memberikan penjelasan dan analisis.
Sering ditemui pendefinisian beberapa konsep, untuk mencegah simpang-siurnya pendapat antara penulis dengan pembaca.
Memiliki karakter sistematis, teratur, dan memiliki alur pemikiran yang jelas.
g.
Tidak terdapat kerangka teori seperti yang kita temukan pada buku-buku atau artikel antropologi ilmiah.
Penulis tampak mengambil jarak dengan subjek etnografinya (tampak sebagai seorang pengamat).
Bersifat argumentative, informative, eksplanatif (menjelaskan) dan juga interpretative (menafsirkan).
h.
Ada jarak antara penulis etnografi dengan para informan dan dengan apa yang ingin disampaikan pada pembaca.
Penulis menghindari pandangan subyektif. Penulis etnografi laci beranggapan bahwa apa yang mereka tampilkan adalah yang paling “objektif”

i.
Menampilkan obyek/subyek apa adanya, tanpa dibumbui tafsir dan analisis.
Bagi penulis etnografi laci, bahasa dipakai untuk menampilkan dan memaparkan realitas empiris

j.
Dianggap “data mentah”. Bisa dimanfaatkan oleh para ilmuan sosial-budaya untuk menjelaskan fenomena tertentu.
Menampilkan abstraksi atas hal-hal yang ia dengar, lihat dan mungkin alami selama peneliti tinggal di lapangan.

k.
Tidak ada perenungan-perenungan dari penulis dan hasil etnografinya. Terbatasnya ruang menjadi penyebabnya.
Tampak adanya otoritas penulis. Pembaca tidak diberikan kesempatan untuk menilai ketepatan abstraksi dan interpretasi atas keterangan informan.

l.
Sangat informative (informasi sangat rinci, ada kutipan kata-kata informan secara langsung, sangat reliable, dan dapat dipercaya).
Otoritas dan reability dalam etnografi laci didasarkan pada dua hal;
Kewargaan suku-bangsa dan keberadaan di tempat.

m.
Kadang, lebih terasa sentuhan kemanusiaannya karena sosok informan lebih jelas.
Sudah ada kerangka teori, tetapi belum terlalu eksplisit. Masih agak tersembunyi.
Judul dan cara penulisannya lebih variatif
n.

Menggunakan epistemology yang positivistic.
Penulis tampak sebagai analyst atau interpreter.
o.

Berawal dari keinginan untuk membuat perbandingan atau studi perbandingan. Tidak ditemukan kesimpulan tertentu ataupun sudut pandang baru.
Penulis berusaha memahami gejala sosial tertentu dengan menempatkannya pada konteks yang lebih luas.
p.

Pemaparan kenudayaan terasa datar dan tidak menampilkan kenyataan yang sebenarnya.

q.

Pemaparan suku-bangsa dan kebudayaan merupakan rekonstruksi dari penulis, bukan realitas yang didengar dan dialami oleh penulis. Penulis menjelma menjadi cultural creators (pencipta kebudayaan).
(King, 1990)
Memiliki kerangka teori yang bersifat eksplisit (berfungsi untuk membimbing penulis mengorganisir datanya dan menjadi alat pembenaran etnografi untuk memperoleh status ilmiahnya.

SISTEM KEKERABATAN DALAM SUKU BUGIS-MAKASSAR

in , by nyakizza.blogspot.com, 22.04

SISTEM KEKERABATAN DALAM SUKU BUGIS-MAKASSAR


Suku bangsa Bugis-Makassar adalah suku bangsa yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Orang Bugis juga sering disebut orang Ugi. Sistem kekerabatan masyarakat Bugis disebut dengan assiajingeng  yang tergolong bilateral atau lebih tepat parental, yaitu sistem kekerabatan yang mengikuti lingkungan pergaulan hidup dari ayah maupun dari pihak ibu atau garis keturunan berdasarkan kedua orang tua. Hubungan kekerabatan ini menjadi sangat luas disebabkan karena, selain ia menjadi anggota keluarga ibu, ia juga menjadi anggota keluarga dari pihak ayah.
Hubungan kekerabatan dihitung melalui dua jalur, yaitu hubungan kerabat sedarah (consanguinity) yang disebut seajing (réppé maréppé) atau sampunglolo, dan hubungan kerabat karena perkawinan (affinal) yang disebut siteppa-teppa (siteppang maréppé ). Kerabat seajing amat besar peranannya dalam kehidupan sehari-hari, selain berkewajiban mengurus masalah perkawinan dan kekerabatan. Anggota keluarga dekat inilah yang menjadi to masiri’ (orang yang malu) bila anggota keluarga perempuan nilariang (dibawa lari oleh orang lain) dan mereka berkewajiban membela dan mempertahankan sirik atau siri, yaitu martabat atau harga diri keluarga luas tersebut. Sementara keluarga siteppa-teppa baru berperan banyak apabila keluarga luas tersebut mengadakan upacara-upacara seputar lingkaran hidup, seperti upacara perkawinan, kelahiran, kematian, mendirikan rumah baru, dan sebagainya.

Adapun anggota keluarga yang tergolong seajing (réppé maréppé) yaitu:
  1. Iyya, Saya (yang bersangkutan)
  2. Indo’ (ibu kandung iyya)
  3. Ambo’ (ayah kandung iyya)
  4. Nene’ (nenek kandung Iyya baik dari pihak ibu maupun dari ayah
  5. Lato’ (kakek kandung Iyya baik dari ibu maupun dari ayah)
  6. Silisureng makkunrai (saudara kandung perempuan Iyya )
  7. Silisureng woroané (saudara laki-laki iyya)
  8. Ana’ (anak kandung iyya)
  9. Anauré (keponakan kandung iyya)
  10. Amauré (paman kandung iyya)
  11. Eppo (cucu kandung iyya)
  12. Inauré / amauré makkunrai (bibi kandung iyya)
Sedangkan anggota keluarga yang termasuk siteppa-teppa (siteppang maréppé) yaitu :
  1. Baine atau indo’ ‘ana’na (istri iyya)
  2. Matua riale’ (ibu ayah/ kandung istri)
  3. Ipa woroané (saudara laki-laki istri iyya)
  4. Ipa makkunrai (saudara kandung perempuan istri iyya)
  5. Baiseng (ibu / ayah kandung dari isteri / suami)
  6. Manéttu riale’ (menantu, istri atau suami dari anak kandung iyya).

Laporan Observasi di Pasar Johar

in , by nyakizza.blogspot.com, 15.05

Perjalanan Menuju Johar menggunakan angkutan umum kami mulai pada pukul 13.50 dengan rute perjalanan sebagai berikut; berangkat dari UNNES, kemudian turun di Jembatan Besi Sampangan dengan membayar ongkos sebesar Rp. 2.500 per orang. Setelah itu berjalan kaki beberapa meter mengejar angkutan umum selanjutnya dengan rute Sampangan - Simpang Lima – Johar. Saat itu cuaca terasa sangat terik dan hawa Semarang terasa amat panas, terlebih lagi di dalam angkutan umum harus duduk berdesak-desakan. Beberapa orang anggota kami, yaitu Miko dan Izza terlihat lemas karena merasa pusing dan mual. Setelah beberapa puluh menit kami melakukan perjalanan yang sangat melelahkan dari Sampangan menuju Johar, kami diturunkan oleh supir angkutan tersebut di depan gapura Pasar Ya’ik Baru, kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengelilingi pasar Ya’ik dan Johar.


Yang pertama kali menarik perhatian ketika sampai di sana, kondisi sanitasi di pasar Johar tidak memenuhi standar kebersihan. Sanitasinya kurang baik dan sistem pengairan di pasar ini sangat buruk. Pedagang maupun pengunjung membuang sampah ke saluran air dan hal itu menyebabkan tersumbatnya saluran sehingga air selokan meluap. Sanitasi yang lain adalah toilet umum. Keadaan toilet sebagai sarana umum tidak menunjukkan kebersihan dan kesehatan. Toilet terlihat kotor dan jorok meskipun terdapat penjaga toilet dan ada penarikan biaya bagi siapa saja yang menggunakan toilet. Setiap pengguna toilet dibebankan biaya kebersihan sebesar Rp. 1000,- .

Keadaan parkiran di pasar Johar terlihat sudah cukup tertata rapi, dan  kondusif. Untuk satu kali parkir dikenakan biaya yang berbeda tarifnya, biasanya untuk sepeda motor dikenakan biaya seribu rupiah sedangkan untuk mobil dua ribu rupiah. Keamanan parkiran diragukan karena petugas parkir kurang mengontrol kendaraan-kendaraan yang terparkir. Hal itu disebabkan karena kendaraan yang parkir cukup banyak tetapi jumlah petugas parkir tidak sebanding dengan jumlah kendaraan tersebut. Oleh karena itu, pemilik kendaraan harus menjaga kendaraan dan barang bawaannya masing-masing (meletakkan helm dalam jok motor, mengunci pintu mobil, tidak meninggalkan barang berharga pada kendaraan).

Tata ruang di pasar Johar masih terasa berantakan dan belum tertata rapi. Tetapi, di pasar Johar sudah dibuat blok-blok menurut jenis barang dagangan yang dijual. Di lantai bawah terdapat barang dagangan seperti barang sandang dan pangan sementara di lantai dua terdapat barang dagangan seperti grosir buah-buahan dan buku-buku bekas.
Tidak jauh dari gapura masuk Pasar Ya’ik terdapat pos keamanan dimana pada saat kami kunjungi, tidak terdapat penjaga pos keamanan tersebut. Pos-pos keamanan tersebut terdapat di depan pintu masuk dan di belakang. Salah satu nama pos keamanan tersebut adalah pos PAM Swakarsa Bambu Kuning.
Untuk produk yang dijual di pasar johar sangat beranekaragam. Seperti buku, makanan berat dan makanan ringan, barang-barang elektronik, bahan mentah (ikan, daging, sayur, dll), lauk pauk, pakaian, tas, buah-buahan, alat-alat rumah tangga, sepatu dan lain sebagainya.
Suasana di pasar Johar ramai seperti pasar pada umumnya, mengingat pasar Johar juga merupakan pasar yang tertua di Semarang dan pusat perdagangan tradisonal. Di pasar Johar, para pedagang sangat ramah kepada pengunjung dan juga interaksi antar pedagang sangat bagus.
Hawa yang terasa di pasar Johar amat panas, sering kali pengunjung harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain dan bau tak sedap tercium dimana-mana terutama pada pasar ikan, namun berbeda dengan aroma pada pasar buah yang lebih harum dan bersih juga tidak becek. Terdapat pemandangan yang sangat menarik perhatian kami ketika berjalan-jalan di pasar buah yaitu ketika bongkar barang dari truk-truk yang memuat buah-buahan dari berbagai daerah produksi untuk didistribusikan ke Pasar Johar dan di jual ke berbagai daerah di Semarang maupun langsung di jual eceran oleh pedagang-pedagang di Pasar Johar, ketika itu juga para kuli panggul mendekat dan mulai mengisi keranjang di punggung mereka hingga penuh dengan buah-buahan. Yang menarik adalah ketika seorang ibu menggendong keranjang di punggungnya yang penuh dengan buah melon berukuran besar, yang beratnya berkali-kali lipat berat badannya karena tubuh ibu itu kurus dan kecil namun sangat kuat.

Di sekitar lingkungan pasar Johar terdapat masjid yang bernama Masjid Agung Kauman Semarang. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat istirahat atau tempat singgah para pedagang dan pengunjung pasar atau masyarakat umum yang kelelahan.
Adapula orang-orang yang mengumpulkan rupiah demi rupiah di pelataran masjid, mereka menunggu ada dermawan yang mengulurkan tangannya ke dalam gelas plastik yang mereka bawa. Seratus, dua ratus, lima ratus, lumayan.







hasil observasi pada tanggal 5 Nopember 2012 di Pasar Johar
Bersama : Miko, Lily, Hilda, Debie, Devi dan Saya. Observasi ini dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah sosiologi desa-kota





© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting